Minggu, 20 Mei 2012

Pampers Sudah Disebut Di Zaman Shakespeare


Pampers bayi sudah banyak sekali megalami perkembangan. Perangkat yang satu ini berfungsi untuk menampung urin bayi. Dalam bentuk tradisional, pampers yang dikenal saat ini tak ubahnya popok bayi. Dalam bahasa Inggris, perangkat ini disebut dengan istilah diaper atau dalam bentuk jamak menjadi diapers.

Asal mulanya, popok bayi terbuat dari bahan yang bisa digunakan kembali, atau dipakai ulang setelah dibersihkan. Kemudian pada tahun 1947 seorang bernama Vic Mills menemukan popok yang sekali pakai langsung buang. Popok ini awalnya tetap disebut diapers, tapi kemudian diberi nama pampers. Istilah popok atau diapers, atau pampers sudah disebut dalam salah satu naskah penyair terkenal William Shakespeare.

Situs baby-diapers.com menuliskan bahwa istilah itu tertulis dalam karya Shakespeare yang berjudul ‘The Taming of the Shrew’. Di situ terdapat kalimat, "Another bear the ewer, the third a diaper.” Tentu saja, kata diapers yang dimaksud dalam naskah tersebut adalah popok biasa, karena saat itu belum dikenal popok sekali pakai atau sekarang dikenal pampers.

Istilah pampers sendiri baru mulai dikenal di awal tahun 1960-an. Tepatnya pada tahun 1961, popok sekali pakai diluncurkan dengan merek dagang Pampers. Dari situlah kemudian popok sekali pakai lebih banyak dikenal dengan sebutan pampers. Sebelumnya, pada tahun 1948 Johnson & Johnson memperkenalkan untuk pertama kalinya popok sekali pakai di Amerika Serikat (AS).

Perangkat tersebut terbuat dari bahan selulosa. Awalnya, pampers dibuat tanpa dilengkapi bahan perekat, sehingga merepotkan pemakainya. Harganya pun masih sangat mahal, maklum masih tergolong produk dengan inovasi baru. Biarpun terasa merepotkan, penggunaan pampers saat itu sudah mulai menjadi gaya hidup kaum ibu.

Produk ini mengalami masa keemasan setelah tahun 1970-an terjadi ledakan angka kelahiran di berbagai negara, termasuk Amerika. Selama tahun 1970, penggunaan pampers bayi di AS mencapai 350 ribu ton. Angka ini identik dengan sekitar 0,3 persen dari total volume sampah yang dibuang di AS. Sepuluh tahun kemudian, menurut situs motherjones.com. volumenya naik menjadi 1,93 juta ton atau setara dengan 1,4 volume sampah.

Seiring dengan kebutuhan pasar yang makin meningkat, pampers bayi pun terus dikembangkan. Di tahun 1970-an pula pampers bayi mulai dilengkapi dengan alat perekat sehingga tidak merepotkan penggunanya. Bahan baku yang digunakan untuk membuatnya pun semakin disempurnakan hingga bekerja maksimal.

Di tahun 1981-an, pampers kemudian juga dibuat lebih elastic dan berdaya serap tinggi. Inovasi ini menjadikan volume pampers yang dibuang menurun tajam. Pada tahun itu, volume sampah pampers yang terbuang turun hingga 50 persen. Namun demikian, semua pampers bekas yang dibuang saat itu belum bisa hancur seperti sampah plastic. Baru mulai Maret 2000, muncul pampers yang mudah terurai saat dibuang sebagai sampah.

Simbol Tanda Tanya Bermula Dari Suriah


Tanda tanya adalah simbol atau tanda baca yang termasuk populer. Ribuan atau bahkan jutaan kali simbol ini digunakan setiap hari oleh penduduk dunia. Banyak sekali tujuan di balik penggunaan tanda tanya, mulai dari tujuan sangat serius hingga main-main. Simbol ini juga menjadi salah satu tanda yang digunakan untuk mengekspresikan kebingungan.

Di pertengahan tahun 2011, muncul film yang berjudul ‘Tanda Tanya’. Paling tidak ini menunjukkan bahwa tanda tanya memiliki makna yang sangat simbolik dan penting. Dalam naskah-naskah akademik, simbol ini juga digunakan untuk melengkapi pertanyaan-pertanyaan penelitian. Bisa dibayangkan, jika simbol ini tidak ada, pertanyaan akan sulit diungkapkan.

Meski bentuknya sangat sederhana, ternyata tanda tanya sudah menjadi bahan penelitian yang penting. Ahli manuskrip dari Universitas Cambridge, Dr Chip Coakley, perlu upaya sendiri untuk memecahkan berbagai pertanyaan di balik hadirnya simbol tanda tanya. Lewat langkah-langkah arkeologis, dia menemukan manuskrip yang menjelaskan asal mula tanda tanya.

Menurut manuskrip yang ditemukannya, seperti termuat di situs physorg.com, simbol tanda tanya itu pertama dikenal bangsa Suriah. Tanda tanya ditemukan dalam manuskrip Injil bangsa Suriah yang ditulis sekitar abad kelima. Tapi, apakah tanda tanya yang ditemukan dalam manuskrip tersebut sudah berbentuk garis melengkung seperti yang kita kenal sekarang ini?

Ternyata tidak. Tanda tanya yang ditemukan dalam manuskrip itu berupa dua titik yang diletakkan atas-bawah. Menurut Coakley, dalam tata bahasa Suriah kuno, tanda baca itu disebut zawya elaya. Meski sudah mengenal tanda tanya, saat itu mereka belum mengenal kata tanya. Akibatnya, dalam bahasa lisan, intonasi menjadi sangat penting untuk membedakan kalimat tanya dari kalimat lainnya.

Selain itu, posisi penempatan tanda tanya di zaman itu juga berbeda dari zaman sekarang. Menurut Coakley, dalam manuskrip yang ditemukannya terlihat bahwa tanda tanya berupa titik dua itu ditempatkan di awal kalimat. Sementara tanda tanya yang kita kenal saat ini diletakkan di akhir kalimat tanya.

Seiring perkembangan waktu, tanda tanya berupa titik dua kalah populer dengan tanda tanya latin berupa garis lengkung vertikal dan di bawahnya diberi titik. Tanda tanya Latin dan Yunani ini baru berkembang pada masa kemudian. Menurut analisis Coakley, simbol tanda tanya yang kita kenal saat ini baru mulai dikembangkan sekitar abad kedelapan.

Perjalanan simbol tanda tanya latin dan tanda tanya Suriah, diperkirakan berkembang secara terpisah. Sedangkan tanda tanya yang berkembang di Arab dan Hebrew mirip dengan simbol tanda tanya Suriah. Simbol tanda tanya di Armenia juga masih sama dengan Suriah. Namun, di Armenia, tanda tanya baru dikenal jauh setelah bangsa Suriah mengenalnya.

Dari berbagai analisis tersebut, Coakley kemudian menyimpulkan bahwa sebenarnya simbol tanda tanya, untuk pertama kalinya ditemukan oleh bangsa Suriah. Setelah itu, barulah bangsa-bangsa lain mengenal dan mengembangkannya.

Momen Aneh Dalam Kehidupan Nobel

Dengan hati dingin dan bakat alam yang sangat kuat, seorang ahli kimia asal Swedia, Alfred Nobel menemukan dinamit. Pria kelahiran 21 Oktober 1833 itu berpikir bahan peledak temuannya bakal mengakhiri segala perang. Namun ternyata yang terjadi malah sebaliknya, bahan peledak menjadikan setiap peperangan menjadi mematikan.

Seperti sangkaan dan kenyataannya yang kebalik-balik, perjalanan Alfred Nobel penuh dengan kejadian-kejadian yang bisa dibilang aneh. Untuk menjadi seorang ahli, Alfred ternyata tidak sekolah dari masa kanak-kanak. Hingga usia 16 tahun, dia dididik sendiri oleh ayahnya, Immanuel Nobel. Immanuel adalah kontraktor sukses yang dipercaya pemerintah Rusia untuk mengembangkan industri pertahanan.

Alfred menghabiskan banyak waktunya untuk belajar sendiri. Selain itu, dia juga hobi traveling ke banyak negara. Selain menyusuri laboratorium di Paris, dia juga banyak bekerja di banyak laboratorium di Amerika Serikat. Setelah itu, dia kembali ke Rusia, tempat ayahnya menjalankan industri persenjataan, dan bekerja di pabrik milik sang ayah. Pabrik itu bangkrut tahun 1859.

Setelah perusahaan ayahnya bangkrut, keluarga Nobel kembali ke Swedia. Alfred kemudian membuat pabrik bahan peledak. Insiden terjadi tahun 1864. Saat itu, ledakan terjadi di pabrik Alfred dan membuat adiknya, Emil, meninggal dunia. Kejadian ini tak membuat Alfred berhenti menapaki dunia bahan peledak. Tahun 1867, dia menemukan bahan peledak yang lebih ‘aman’ dan kemudian dikenal sebagai dinamit. Di tahun itulah dia patenkan temuannya.

Tak lama setelah kejadian itu, yakni tahun 1888, kejadian aneh juga terjadi. Saat itu, seudara laki-laki Alfred, yakni Ludvig Nobel meninggal dunia. Namun koran-koran Prancis salah pengertian, dan mengira yang meninggal adalah Alfred. Mereka pun beramai-ramai membuat obituary Alfred yang saat itu masih hidup. Mereka menyebut Alfred sebagai penjaja kematian.

Sibuk dengan kesenangannya di meramu bahan peledak membuat Alfred tak berteman dengan banyak orang. Dia juga tidak pernah menikah sepanjang hidupnya. Alfred meninggal 10 Desember 1896 akibat pendarahan di sekitar otak. Saat meninggal catatan yang berisi keinginan-keinginannya ditemukan.

Salah satu catatan yang membuat banyak kerabatnya terkejut adalah keinginannya untuk memberikan hadiah kepada para ahli di bidang masing-masing. Permintaan itu tertanggal 27 November 1895. Menurut catata about.com, dalam catatan itu terdapat lima kategori keilmuan yang Alfred ingin memberikan penghargaan kepada ahlinya. Kelima kategori itu adalah fisika, kimia, kedokteran, sastra, dan perdamaian.

Hingga kematiannya, kewarganegaraan Alfred tidak diketahui secara pasti. Hingga usia sembilan tahun dia berkewarganegaraan Swedia. Tapi setelah itu dia hidup dan menetap di Rusia, Prancis, dan Italia tanpa mendapat kewarganegaraan.

Lima tahun setelah kematiannya, yakni 10 Desember 1901, penghargaan Nobel untuk pertama kalinya digelar. Lima orang ahli mendapatkan hadiah Nobel dengan kategori masing-masing. Nobel Kimia diberikan kepada Jacobus H van’t Hoff, Fisika diberikan kepada Wilhel Rontgen, Kedokteran untuk Emil A von Behring, Sastra untuk Rene FA Sully Prudhomme, dan Nobel Perdamaian untuk Jean H Dunant dan Frederic Passy. Setelahnya, penghargaan Nobel pun dianugerahkan setiap tahun hingga saat ini.

Perintis Sistem Warna Ternyata Astronom


Apa jadinya jika warna-warna benda di sekitar kita tidak diidentifikasi satu per satu? Kebingungan massal umat manusia akan terjadi dalam mendefinisikan berbagai hal di sekitarnya. Eskpresi perasaan lewat warna juga tidak akan terjadi. Tapi untunglah, itu tidak terjadi. Sistem warna telah dibuat, dan masing-masing warna sudah dibuatkan identifikasinya.

Sistem warna juga telah mengubah banyak hal di dunia ini. Lampu lalu lintas yang menggunakan simbol warna, telah banyak membantu mengurangi kecelakaan. Warna-warna yang jadi corporate color, juga memudahkan lembaga bisnis untuk mengenalkan diri kepada pasar. Warna-warni bendera juga menjadi simbol tersendiri bagi sebuah negara.

Warna juga mengembangkan ilmu pengetahuan. Dari sini kemudian lahir teori-teori fisika. Warna juga membuat ilmu desain berkembang sangat pesat industri audio visual tumbuh melejit, dan sebagainya. Pertumbuhan mental dan kecerdasan anak juga terbantu dengan lahirnya konsep warna. Singkatnya, kehidupan di dunia ini menjadi semakin berwarna.

Tapi tahukah Anda siapa yang pertama kali membuat sistem warna di dunia ini? Situs coloryourcarpet.com mencatat bahwa ternyata orang yang pertama kali membuat sistem warna adalah astronom Finlandia bernama, Aron Sigfrid Forsius (1569-1637). Dia membuat sistem warna pada tahun 1611.

Sistem warna yang dibuatnya menjadikan warna hitam dan putih sebagai titik esktremnya. Di tengah kedua warna itu barulah ada warna lain seperti kuning, merah, biru, dan sebagainya. Saat itu baru dikenal tujuh warna, yakni hitam, putih, merah, kuning, kuning muda, biru, dan oranye. Dari karya Forsius inilah kemudian banyak ahli berpikir keras untuk membuat sistem warna yang lebih sempurna.

Kemudian tahun 1613 warga Belgia, Franciscus Aguilonius (1567-1617) membuat diagram warna. Eksperimen warna pun terus berjalan. Seniman Belanda Dutchman (1606-1669) mencoba membuat teori warna. Teorinya menyebutkan bahwa warna kuning jika digelapkan bakal menjadi coklat dan warna merah adalah setengah dari kuning.

Berbagai temuan soal warna itu tak membuat para ahli segera puas. Konsep warna yang sangat maju kemudian dirumuskan oleh ahli fisikan asal Inggris, Isaac Newton (1642-1726). Dia membuat roda warna pada tahun 1672. Dengan teori optic, dia memantulkan cahaya dengan prisma dan menemukan spectrum warna. Saat itu, dua warna penting, yakni magenda dan cyan belum disebutkan. Kedua warna ini baru disebutkan 32 tahun setelah roda warna dibuat Newton.

Temuan Newton ini pun tidak lantas menghentikan berbagai penelusuran tentang konsep warna. Setelah itu banyak sekali ahli dan seniman yang mengembangkan konsep-konsep warna. Salah satu perkembangan temuan yang cukup penting dalam sejarah konsep warna adalah teori warna primer yang dibuat ilmuwan Jerman, Wilhelm Ostwald (1853-1932).

Ostwald mengurutkan warna primer berupa warna kuning, merah, hijau, dan biru laut. Warna primer ini dia susun tahun 1916. Temuan warna primer pun mengantarkan ahli kimia tersebut meraih hadiah Nobel. Setelah itu, temuan-temuan teori warna masih terus terjadi. Tak hanya di dunia percetakan, teori warna juga dikembangkan di dunia fashion, industri seni, perangkat digital, dan sebagainya. Intinya, perkembangan konsep warna juga ikut menyuburkan berbagai industri di dunia ini.

Perangkap Tikus Terdaftar Dengan 4.400 Paten


Perangkap adalah alat sederhana yang sudah digunakan manusia sejak masa prasejarah. Peralatan ini diperlukan untuk mendapatkan binatang yang bisa dimakan, atau sekadar untuk mematikan binatang-binatang predator yang merugikan manusia. Penggunaan perangkap binatang makin luas saat manusia mulai memerlukan bahan penutup tubuh. Kulit binatang banyak diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Kini, perangkap lebih banyak digunakan untuk mendapatkan binatang-binatang predator, atau binatang khusus yang liar untuk keperluan riset. Perangkap tikus termasuk salah satu jenis perangkap yang sangat populer digunakan. Binatang ini seperti dua sisi mata pisau. Sebagian manusia menangkapnya lalu dimatikan karena dianggap hama. Sebagian lain menangkapnya untuk riset karena sifat mamalianya mirip manusia.

Perangkap tikus juga sudah dibuat sejak zaman dulu kala. Cuma, makin hari bentuk desain dan cara kerjanya terus disempurnakan. Bentuk perangkap tikus yang menggunakan pegas seperti kita kenal sekarang ini, merupakan hasil evolusi panjang peralatan tersebut. Sejauh ini, perangkap yang cara kerjanya mengandalkan gaya pegas dianggap paling aman untuk memenuhi dua jenis kebutuhan: riset dan pemberantasan hama.

John Mast, warga Lancaster, Pennsylvania, dinobatkan sebagai penemu perangkap tikus pegas itu. Dia membuatnya pada tahun 1895 dan kemudian dibuatkan paten. Perangkap tikus buatan Mast ini, menurut www.madehow.com, bekerja paling cepat dan efektif dibanding perangkat lain. Tikus yang terjerat perangkap ini pun hampir tidak punya kemungkinan untuk lepas lagi.

Temuan Mast ini pun dalam waktu singkat menyebar, meski tidak memanfaatkan media promosi. Hal ini member keuntungan besar bagi Mast. Dia menjual temuannya itu kepada Oneida Community Ltd tahun 1907. Oneida adalah perusahaan perabotan yang terbuat dari perak. Namun dengan temuan Mast, perusahaan ini lantas mendiversifikasi produknya dengan perangkat berbahan baja, termasuk perangkap tikus.

Mulanya, produksi perangkap tikus Oneida hanya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat dan New York. Namun permintaan terus berdatangan dari tempat-tempat lain. Bisnis perangkap tikus lantas jadi unit yang memberi banyak keuntungan. Perusahaan yang kemudian melirik bisnis tersebut pun bertambah. Produksi mereka pun bertambah terus. Di tahun 2000-an, pabrik perangkap tikus Woodstream, di Litiz, Pennsylvania, mampu memasarkan 10 juta perangkap tikus per tahun.

Paten perangkap tikus yang dibuat Mast kemudian merangsang banyak orang untuk memodifikasinya dan membuat paten baru. Hingga saat ini, sudah terdapat sekitar 4.400 paten yang tercatat di Kantor Paten Amerika. Namun demikian tidak semua paten perangkap tikus itu mewujud jadi alat dan bisa dijual serta menguntungkan. Paling tidak Cuma sekitar 25 paten yang kemudian bisa menghasilkan perangkap tikus yang layak pakai dan menghasilkan keuntungan.

Tahun 1924, sebuah perusahaan pembersih gedung di Iowa secara agresif juga mengembangkan produk ini. Dia kemudian membuat perangkap yang disebut ‘Catch-All Multiple Catch Moustrap’. Bahan baku yang digunakan untuk membuat peralatan ini pun dia kembangkan. Tidak hanya logam, perusahaan ini juga membuat perangkap plastik. Hasilnya, dalam waktu singkat dia bisa memasarkan produknya ke 14 negara. Begitu pesat penggunaan dan pengembangan alat perangkap tikus.