Minggu, 18 Maret 2012

Peningkatan Kadar CO2 Di Atmosfer Membuat Kita Lebih Gemuk?


Sebuah teori mengejutkan dikemukakan oleh seorang peneliti Denmark. Pasalnya Ia mengatakan bahwa peningkatan penderita obesitas di Denmark secara kasar setara dengan peningkatan karbon dioksida di atmosfer.
Peneliti Lars-Georg Hersoug mempelajari berat orang baik yang gemuk dan kurus selama 22 tahun, untuk mencari penjelasan setelah melihat keadaan sekarang dimana orang-orang kurus pun mulai menumpuk berat badan.


“Teori normal adalah bahwa orang gemuk bertambah berat badan karena mereka tidak bergerak sebanyak yang seharusnya. Tapi penelitian menunjukkan bahwa orang yang kurus juga saat ini telah menambah berat badan, dan ini terjadi selama seluruh periode 22 tahun penelitian.” tutur Hersoug, yang sekarang di Pusat Penelitian untuk Pencegahan dan Kesehatan di Glostrup University Hospital, kepada Science Nordic.
Ketika mencari faktor penyebabnya, ia melihat bagaimana konsentrasi CO2 dari atmosfer juga meningkat dalam korelasinya dengan kenaikan berat badan.

Dia sekarang mengajukan bahwa orexins, sejenis hormon yang berada di otak dan merangsang kesadaran dan pengeluaran energi, mungkin terpengaruh oleh CO2.

Hersoug juga menunjukkan bukti bahwa obesitas meningkat secara pesat di Amerika Serikat pada periode 1986-2010 di Pantai Timur, yang merupakan tempat konsentrasi CO2 tertinggi negara itu.
Dia juga mengutip sebuah studi pada tahun 2010 silam, dimana 20.000 hewan laboratorium semuanya bertambah berat badan, meskipun dalam kondisi yang terkendali. 

Kakek 89 Tahun Buat Makam Firaun untuk Dirinya



Fred Guentert mempersiapkan prosesi pemakaman yang unik untuk dirinya sendiri. Kakek berusia 89 tahun itu, menghabiskan seperempat abad dari umurnya untuk membuat makam bagi dirinya sendiri.

Makam yang dia buat menyerupai sarkofagus atau peti mati yang biasa dipakai Firaun dari Mesir. Sarkofagus itu dibuat dengan ukuran panjang 2,1 meter dan terbuat dari kayu cedar. Pria lanjut usia tersebut juga berencana untuk memumikan tubuhnya setelah dia meninggal dan disimpan di dalam peti tersebut.

Dia mempelajari keterampilan memahat dan mengukir serta desain Mesir Kuno melalui buku.

"Ini menjadi bagian dari hobi saya dan hampir selesai. Saya punya satu keinginan terakhir sebelum saya ditempatkan ke dalam peti mati, yaitu setiap orang harus memastikan bahwa saya memang sudah benar-benar meningggal sebelum mereka menutupnya," ucap Guentert seperti dikutip dari Orange, Sabtu (17/3/2012).

"Saya rasa itu adalah takdir dan cara pemakaman tersebut memberikan saya hidup yang lebih lama bersama Mesir kuno," imbuhnya.

Guentert selama hidupnya memang sangat tertarik dengan budaya Mesir kuno yang pada awalnya dikenal sejak tahun 1922, ketika Howard Carter menemukan makam Raja Tutankhamen. Dia bahkan mengunjungi Mesir 10 tahun lalu hanya untuk melihat benda yang sangat antik dan kuno itu.

Kakek tua ini tidak sendirian dalam mewujudkan keinginannya. Pensiunan dari pegawai kantor pos tersebut didukung penuh oleh istrinya yang bernama Joyce.

"Hal ini memang sedikit aneh untuk membicarakan tentang peti mati saat dia masih hidup. Tapi hal yang paling menarik baginya adalah Mesir kuno dan budayanya. Dia akan dikenang oleh orang banyak saat dirinya meninggal bersama apa yag menjadi tujuan dari hidupnya," ujar Grace yang berusia 73 tahun.