Senin, 23 April 2012

OK Tercipta Dari Bahasa Plesetan

OK adalah istilah populer yang kurang lebih sama artinya dengan ‘iya’ dalam bahasa Indonesia. Istilah tersebut sudah sangat populer dan senantiasa diungkapkan untuk menunjukkan tanda setuju. Meski tidak mengenal bahasa Inggris dengan baik, hampir setiap orang bisa memahami arti kata OK. Istilah tersebut sudah menjadi seperti simbol universal.

Menurut kinglishschool.com, kata OK pertama kali digunakan pada tahun 1838 oleh koran Boston. Koran ini memang saat itu dikenal paling suka menggunakan singkatan-singkatan untuk menonjolkan istilah tertentu. Penggunaan banyak singkatan ini, tidak lain adalah untuk menarik perhatian para pembaca harian tersebut.

Salah satu singkatan yang saat itu dipopulerkan adalah IDN yang merupakan kepanjangan dari I don’t know (saya tidak tahu). Namun istilah tersebut tidak sampai sepopuler OK. Istilah IDN hanya dimengerti oleh kalangan tertentu.

Sebenarnya, kata OK sendiri merupakan singkatan yang diplesetkan dari OW. Di masa sebelum lahir OK, istilah yang digunakan untuk menyatakan setuju adalah OW yang merupakan kepanjangan dari all right (dibaca: oll wright). Oleh koran Boston, istilah OW ini diplesetkan menjadi OK yang awalnya merupakan kepanjangan dari all correct (dibaca: oll korrek).

Setelah muncul pertama kali tahun 1838, istilah OK sempat tidak populer. Istilah ini kembali menjadi populer setelah Martin Van Buren yang maju untuk masa jabatan kedua sebagai presiden Amerika di tahun 1840-an. Dalam kampanye-kampanyenya, Martin menggunakan kata OK yang sebenarnya dijadikan singkatan dari Old Kinderhook. Nama Kinderhook adalah nama kampung kelahirannya.

Dalam pemilihan untuk masa jabatan kedua ini, Martin gagal menduduki kursi kepresidenan Amerika. Namun, setelah itu istilah OK kembali digunakan banyak orang, dan makin lama semakin populer untuk menunjukkan tanda setuju. Beberapa program komputer juga menjadikan istilah OK sebagai pengganti kata yes.

Religiusitas Penemu Font Times New Roman


Times New Roman begitu terkenal di hampir semua pengguna komputer. Ini adalah nama font (jenis) huruf yang menjadi bagian dari Microsoft Word. Bentuknya sangat khas, dan hampir selalu diidentikkan dengan dokumen-dokumen formal. Ini juga menjadi salah satu font paling tua dalam aksara latin. Boleh jadi juga menjadi font paling populer di dunia.

Asal mulanya, jenis huruf ini tidak punya nama tertentu. Font ini hanya menjadi huruf khas yang didesain oleh Stanley Morisson. Pria asal Inggris ini lahir 6 Mei 1889. Dia sebenarnya bukanlah orang yang mengerti tentang teknologi cetak mencetak naskah. Stanley ini hanya punya hobi membaca yang sangat kuat.

Pengetahuannya tentang teknologi percetakan dan jenis huruf dia dapatkan dari penerbit buku The Pelican Press. Dia pelajari huruf-huruf secara detil saat membaca buku. Bukan hanya isi bukunya yang dia serap tapi juga desain hurufnya.

Tak hanya itu, Stanley ini juga orang yang sangat religius. Dia senang sekali membaca buku-buku agama dan Injil. Karena kecintaannya pada buku, dia kemudian memilih bekerja di penerbitan bernama Cloister Press di Manchester. Di sinilah kemudian dia belajar mendesain huruf. Desain karyanya kemudian didedikasikan untuk buku-buku agama.

Kemudian pada tahun 1931, dia menjadi konsultan huruf untuk harian yang terbit di London, The Times. Suatu hari, dia diiminta oleh The Times untuk membuat desain huruf yang khas dan berbeda dari huruf-huruf yang sudah banyak digunakan saat itu. Prinsipnya, jenis huruf itu mencerminkan garis yang kuat, konsistensi, dan ekonomis bagi The Times.

Menurut situs zhimzone.com, mulai edisi 3 Oktober 1932, The Times untuk pertama kali menggunakan jenis huruf yang secara khusus dibuat oleh Stanley. Untuk mengerjakan desain ini, Stanley memang tidak sendirian. Dia dibantu oleh temannya, Victor Lardent. Huruf ini rupanya digemari banyak pembaca dan kemudian menjadi sangat populer.

Dengan menanjaknya popularitas jenis huruf tersebut, The Times kemudian mendaftarkan lisensinya ke Monotype Corporation di Inggris. Bersamaan juga diregistrasi di United Linotype. Namun kemudian permasalahan muncul. Di tahun 1945, Linotype yang berbasis di Amerika memberikan nomor registrasi jenis huruf yang didaftarkan dengan nama Time Roman. Jenis huruf ini dinyatakan berbeda dengan font yang didaftarkan oleh The Times.

Linotype dan perusahaan lain seperti Adobe dan Apple Macintosh menggunakan huruf jenis ini dengan sebutan Time Roman. Sementara Monotype yang kemudian memberikan lisensi kepada Microsoft, menyebut huruf tersebut Times New Roman.

Di tahun 1980-an Monotype mendesain ulang font buata Stanley itu dan diklaim lebih bagus ketimbang Time Roman yang dikeluarkan oleh Linotype. Untuk menghadapi desain baru itu kemudian Linotype mengembangkan varian-variannya. Banyak pengguna komputer meyakini bahwa Time Roman dengan Time New Roman adalah sama. Stanley pun kemudian dipercaya sebagai orang yang pertama kali mendesain jenis huruf tersebut.

Saat ‘konflik’ terjadi soal klaim jenis huruf terjadi, Stanley sudah renta. Dia kemudian mengembuskan napasnya untuk terakhir pada 11 Oktober 1967 di London. Tidak banyak orang yang mengenang sosok yang satu ini, meski jutaan manusia menggunakan desain huruf hasil karyanya. Jadi, mulai saat ini, ingatlah Stanley saat Anda mulai menulis naskah dengan memilih font Times New Roman.

Jumat, 20 April 2012

Free Download Kid On A Rocket Ride - Dalam Kelam


Kid On A Rocket Ride – Dalam Kelam

Mengingat kembali, saat kau disini
Dan kini aku sendiri lupa apa yang ku cari
Waktu pun berhenti, semua tak berarti
Dalam kelam ku berjanji, kelakkan ku balas nanti

Kau yang pergi jangan kembali
Kelak kau rasakan perihnya ditinggalkan
Berharap ku kan datang lagi

Aku terbuang aku mengalah
Saat kau tertawa ku menangis tersiksa
Percaya hidup itu indah, walau tanpa dirimu

Mengingat kembali, saat kau ada disini
Dan kini aku sendiri lupa apa yang ku cari
Waktu pun berhenti, semua trasa tak berarti
Dalam kelam ku berjanji, kelakkan ku balas nanti

Kau yang pergi jangan kembali
Kelak kau rasakan perihnya ditinggalkan
Berharap ku kan datang lagi

Aku terbuang aku mengalah
Saat kau tertawa ku menangis tersiksa
Percaya hidup itu indah, walau tanpa dirimu

Kau yang pergi jangan kembali
Kelak kau rasakan perihnya ditinggalkan
Berharap ku kan datang lagi

Aku terbuang aku mengalah
Saat kau tertawa ku menangis tersiksa
Percaya hidup itu indah, walau tanpa dirimu
Walau tanpa dirimu . . .

Kamis, 19 April 2012

Free Download Killing Me Inside - Melangkah


Killing Me Inside - Melangkah


Ku takkan menyerah
Ku takkan berhenti
Hadapi semua
tak akan perduli

Cacian mereka,
takkan pernah bisa
Hentikan langkah kita,

Selamanya, Percayalah
Selamanya, Melangkahlah,

Jangan pernah berhenti kawan
Kita pasti akan bertahan
Jangan pernah menyerah
Bila kita bersama
Kita pasti kan selalu bisa
Melangkah

Ku masih disini
Menanti semua
Mimpi-mimpi kita
Saatnya telah tiba
Cacian mereka
Takkan pernah bisa
Hentikan langkah kita

Selamanya, percayalah
Selamanya, melangkahlah

jangan pernah berhenti kawan
Kita kan bertahan
Jangan pernah menyerah
Bila kita bersama kita pasti kan selalu bisa
Melangkah

Selamanya percayalah
Selamanya melangkahlah

Sejarah Kelahiran Dua Jari Simbol Victory

Acungan jari telunjuk dan jari tengah sudah menjadi bahasa universal. Masyarakat di seluruh belahan dunia melihat acungan tersebut sebagai simbol kemenangan atau victory. Secara mudah memang acungan kedua jari itu akan membentuk huruf ‘V’ yang merupakan huruf pertama pada kata victory.

Tahun 2008 simbol ini sangat terkenal di kalangan anak muda Jepang. Saat foto sendiri maupun bersama, mereka kebanyakan mengacungkan simbol tersebut. Foto-foto dengan pose seperti ini pun menjadi koleksi utama kaum muda di negeri Sakura tersebut. Seolah-olah simbol victory sudah menjadi bagian hidup dan gaya hidup anak muda Jepang.

Saking populernya, sampai-sampai di tahun 2008, harian Japan Today membuat survey soal simbol tersebut. Respondennya diambil secara random untuk ditanya alasan di balik kebiasannya mengacungkan simbol dua jari saat berpose di depan kamera. Hasilnya menunjukkan sebagian besar responden mengaku menjalankan kebiasaan tersebut secara reflek.

Seorang responden bernama Seiichi Igeta (saat disurvei usianya 17 tahun) mengaku bahwa dia tidak pernah tahu alasan di balik kebiasannya mengacungkan simbol tersebut. Dia juga sama sekali tidak paham sosok yang menemukan simbol tersebut dan sejarahnya. Yang jelas, Igeta mengaku bahwa kebiasaan tersebut sudah dijalankannya sejak masa kanak-kanak. “Biasa jadi ini sudah terprogram dalam DNA saya,” kata dia waktu itu, seperti tertulis di situs tylerbell.net.

Memang tidak ada yang tahu pasti penemu dan sejarah kemunculan simbol dua jari tersebut. Ada beragam cerita yang dipercaya memunculkan simbol tersebut. Salah satu cerita mengungkapkan bahwa simbol tersebut mulai dikenal saat terjadi perang Inggris dan Prancis yang dikenal dengan Perang Seratus Tahun. Sebenarnya, perang ini berlangsung tahun 1337 hingga 1453 atau selama 116 tahun.

Saat perang berlangsung, para prajurit Prancis berjanji untuk memotong jari tengah dan jari telunjuk tangan kanan bagi setiap pemanah Inggris yang berhasil ditangkap. Namun, ternyata kejadiannya berbalik. Setelah meraih kemenangan, para pemanah Inggris justru mengacungkan kedua jari tersebut sebagai simbolnya. Dari sinilah kemudian simbol vitory mulai berkembang.

Ada juga yang menyatakan bahwa cerita soal simbol V bermula dari naskah-naskah yang ditulis seorang penulis Prancis bernama Francois Rabelais. Tokoh ini hidup sekitar tahun 1500-an. Dia dipercaya sebagai orang yang pertama kali menggunakan simbol tersebut dan menuliskannya dalam beberapa artikel. Dari sinilah kemudian manusia mengenal simbol victory.

Sedangkan di era modern, simbol acungan dua jari tersebut mulai dikenal setelah Winston Churcill biasa menggunakannya. Karena, di Inggris simbol ini dikenal sebagai simbol Winston Churchill. Perdana menteri Inggris biasa menggunakan simbol ini setelah kemenangan tentara sekutu pada Perang Dunia II. Setelah Churcill biasa mengacungkannya, pemimpin Prancis Charles de Gaulle and Richard Nixon pun menggunakannya. Simbol ini pun menjadi populer.

Acungan dua jari menjadi makin terkenal setelah seorang model Jepang, Junji Inoue berpose dengan simbol tersebut untuk mempromosikan produk-produk Konica pada tahun 1972. Bersamaan itu berlangsung Olimpiade di Sapporo dan para atlet yang meraih medali pun mengacungkan simbol tersebut sebagai tanda kemenangan. Makin populerlah acungan jari tengah dan jari telunjuk itu sebagai tanda victory.